patah rasanya.

bukan karena artis A nikah sama artis B, bukan.

inilah rasanya ketika lagi semangatnya kajian kitab, kemudian sudah membeli kitabnya di toko buku yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

kemudian terpatah kan oleh sebuah whatsapp yang berbunyi, “syl, kajiannya diundur sampai waktu yang tidak ditentukan yaa.”. begitulah pengumumannya.

“lho kenapa mba ?”.

“iya, ada takmirnya yang ngga suka.”

patah rasanya.

padahal saat selasa kemarin (pertama kali) dibawakan adalah hal hal dasar yang dulu pernah disampaikan dijenjang sekolah dasar, “siapa Tuhanmu?, “apakah agamamu?”, “siapakah nabimu?”.

ustadz yang notabennya pembawaannya lembut, penyampainnya baik, rasa rasanya tidak ada kalimat jelek atau menyakitkan yang beliau lontarkan saat mengisi materi.

pun yang dibahas masalah ringan, keutamaan bismillah juga dibahas di selasa lalu. salah satu faedahnya (apapun yang kita tulis misal surat, yang kita tulis ‘bismillah’ dulu baru salam. nah kan yang ini saya baru tau. based on Surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba’. kalau dijaman ini mungkin nulis whatsapp).

balik lagi ke awal.

sedih :(.

kenapa makin keliatan orang yang menolak, menentang, membenci jalan ini.

jadi keinget sebuah berita bangunan rumah Allah yang ijinnya dibekukan. subhanallah 😦

jahat.

rumah Allah lho ini, kok berani ?. ini kajian nggak boleh diadakan aja rasanya sakit. gimana perasaan orang orang yang masjidnya nggak boleh dibangun.

rasa rasanya mau selembut dan sehalus apapun Ustadz menyampaikan, kalau hatinya kehalang hidayah ya semua tentang jalan ini dianggap jelek, menyimpang, melawan, kuno, sesat.

kemudian saya langsung klarifikasi kepada tante Enni, “iya mbak, doakan saja mereka mendapat hidayah dan taufiq”. tenangnya.

ahh.. hidayah itu mahal, kawan.

dari,

yang kau patahkan semangatnya.

Advertisements

nggak ada yang bilang lemah, itu semua malah kekuatan mu.

menjadi berbeda dari yang tidak baik itu baik.

jagalah segalanya, agar dahaga yang dirasa akan menjadi nikmat berbuka yang istimewa pada waktunya.