Do’a Pesakitan

GUSTI,
 seperti kapan saja
 kami para hamba
 tak berada di mana-mana
 melainkan di hadapanMu jua
 ini sangat sederhana
 tetapi kami sering lupa
 sebab mengalahkan musuh-musuhMu
 yang kecil saja, kami tak kuasa
GUSTI,
 inilah tawananMu
 tak berani menengadahkan muka
 mripat kami yang terbuka
 telah lama menjadi buta
 sebab menyia-nyiakan dirinya
 dengan hanya menatap hal-hal maya
GUSTI,
 cinta kami kepada Mu tak terperi
 namun itu tak diketahui
 oleh diri kami sendiri
 maka tolong ajarilah kami
 agar sanggup mengajari diri sendiri
 menyebut namaMu seribu kali sehari
 karena meski hanya sehuruf saja dariMu
 takkan tertandingi
GUSTI,
 kami berkumpul disini
 untuk mengukur keterbatasan kami
 melontarkan beratus beribu kata
 seperti buih-buih
 melayang-layang di udara
 diisap kembali oleh Maha Telinga
 sehingga tinggal jiwa kami termangu
 menunggu ishlah dariMu
 agar jadi bening dan tahu malu
GUSTI,
 kami pasrah sepasrah-pasrahnya
 kami telanjang setelanjang-telanjangnya
 kami syukuri apapun
 sebab rahasiaMu agung
 tak ada apa-apa yang penting
 dalam hidup yang cuma sejenak ini
 kecuali berlomba lari
 untuk melihat telapak kaki siapa
 yang paling dulu menginjak
 halaman rumahMu
GUSTI,
 lihatlah mulut kami fasih
 otak kami secerdik setan
 jiwa kami luwes
 bersujud bagai para malaikatMu
 namun saksikan
 adakah hidup kami mampu begitu ?
 langkah kami yang mantap dan dungu
 hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
 arah mata kami yang bingung dan tertipu
 akan sanggupkah melunasi hutang kami
 kepada kasih cinta penciptaanMu?
GUSTI,
 masa depan kami sendiri kami bakar
 namun Engkau betapa amat sabar
 peradaban kami semakin hina
 namun betapa Engkau bijaksana
 kelakuan kami semakin nakal
 namun kebesaran Mu maha kekal
 nafsu kami semakin rakus
 tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
 kemanusiaan kami semakin dangkal
 sehingga Engkau menjadi terlampau mahal
GUSTI,
 kamilah pesakitan
 di penjara yang kami bangun sendiri
 kamilah narapidana
 yang tak berwajah lagi
 kaki dan tangan ini
 kami ikat sendiri
 maka hukumlah dan ampuni kami
 dan jangan biarkan terlalu lama menanti
(EMHA AINUN NADJIB – 1981)

					
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s