3142 itu punya cerita :)


5.30 pagi itu kami sudah berkumpul di Stasiun Gubeng.  Kereta yang akan membawa kami ke Purwosari akan tiba pukul 6 pagi. Berhubung kami menaiki kereta ekonomi, tiket  tidak bisa dipesan dari hari sebelumnya. Harga tiket 24.000. Perjalanan kali ini akan dipimpin oleh seorang orang yang tidak cukup familiar, baik di dunia nyata maupun maya. Sebut saja dia Wong Bulu. Satu yang saran herankan dari manusia satu ini, ini trip yang kedua kalinya saya bersama dia. Tidak bias tepat waktu, ya bagaimana tidak, dia yangmenyuruh kami kumpul pukul 05.30, tapi hingga kereta berangkat pun batang hidungnya tak juga kelihatan.
Baiklah, maka kami putuskan untuk berangkat terlebih dahulu, padahal tiket yang kami beli kala itu sudah termasuk dia dan 2 temannya. Dan kereta ekonomi berikutnya baru ada pukul 09.30 . Dan (MUNGKIN), karena rasa tanggung jawabnya yang besar, dia merogoh kocek lebih dalam dengan membeli tiket kereta bisnis yang harganya 75.000, 3 kali lipat tiket ekonomi. HUahahhahaha, rasaiiinnnn :p

Ini pengalaman kedua saya naik kereta ekonomi Pasundan, yang pertama dulu ke Bandung. Bagaimana rasanya ? Mengasyikkan, sekalipun terkadang kereta berhenti sangat lama dan panasnya luar biasa. Di kereta ekonomi satu yang perlu diwaspadai, barang-barang bawaan. Temen serombongan saya, Ema , dia kecopetan , dompet beserta isinya. Jadi kalau naik kereta ekonomi, hati-hati terhadap barang bawaan.

Ada saja sesuatu yang direnungkan saat perjalanan, apa itu ? cukup saya dan Tuhan yang tahu :’)

Sampai Purwosar pukul  11.30, ternyata Wong Bulu beserta 3 temannya sudah sampai terlebih dahulu. Berhubung hari itu hari jum’at, maka temen-temen langsung menuju masjid PLN disebelah stasiun, untuk menunaikan sholat Jum’at.  Setelah sholat jumat, kita kedatangan teman baru, dia Mas Otot, yang mengetahui rute yang akan kami lewati nanti. Oia, 3142 yang akan kami daki ini akan melewati jalur Wekas.

Dari stasiun, kami berjalan beberapa menit menuju pangkalan bis. Bis yang kami naiki mempunyai tarif 10.000, bilang saja kepada kernet turun di pasar sapi. Karena lelah, kami di bis kami pun tertidur, sebelum melanjutkan perjalanan yang sebenarnya. Dari Purwosari ke pasar sapi, kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam.

Pukul 03.00 sampailah kami di pasar sapi, karena anaconda di perut sudah meronta-ronta, maka kami putuskan untuk mencari warung makan.
Selesai makan, Bulu mencari carteran pick up untuk membawa kami ke Wekas. Biayanya 150.000 , dari Wekas ke pasar sapi , kira-kira lama perjalanan 1-2 jam.

Sampai di basecamp, kami segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke pos 2. Di basecamp, kami mendapat teman baru dari IKAPALA (Ikatan Pecinta Alam Indonesia), mas Adi. Akhirnya pukul 05.00 kami berangkat. Dari awal WB (Wong Bulu) sudah bilang ke saya, kalau jalur Wekas ini nggak ada jalan bonus. Pertama saya denger sedikit pesimis, karena saya belum pernah jalan sama mereka, dan merka nggak tau lagu “seribu langkah kaki kecilku” versi saya. Ultimatum saya sampaikan, “pokoknya kalau jalan sama aku, harus sabar lho ya”  😀
Kami menikmati perjalanan kami, meskipun sering juga berucap “Ini mana sih pos 2 nya ?”, “Ini berapa lama lagi?”. Tapi kami juga penuh canda.. “mizone, mizoneeee”, “angett, angeeett”, “kipasss, kipasss, makin lama makin mahal”, “aqua dingin, dingin, dinginnn”, “rokok, rokok, rokok”, “yoo sewa bantall, sewa bantal”. Sumpah, sepanjanng perjalanan ngakak dan penuh canda, dan itulah yang membuat perjalanan naik dan terus naik “TIDAK” terlalu terasa.  Bener-bener berasa di kereta ekonomi.

Saya dan Ema jalan paling depan, setelah mas Adi, jadi ketika saya atau Ema lelah dan berhenti istirahat, maka 16 yang lain pun mengikuti. Pukul 20.45 sampailah kami di pos 2. Yang cowok segera mendirikan tenda, untuk bersiap istrihat karena pukul 02.00 pagi kami berencana untuk summit. Yang kelaparan, segera memasak, dingin sekali kala itu , suhu sekitar 10 derajat.

Setelahhhh tenda berdiri, waktunya tidurrrr, kala itu sudah tidak ada lagi rasa lapar, yang ada hanya DINGIN. SUMPAH ane jujurrrr.. 😀

Pukul 02.00, mas Otot membangunkan kami, ya Alloh, sumpahhh dingin bangeddd, jadi ragu-ragu mau ngikut summit atau nggak. Karena takut nggak kuat dan ngrepoti yang lain, akhirnya berbekal tekad (cielaaah, XD). Saya memutuskan ikut :D. Kapan lagi coba ? :D.

Tapi ya tetep, safety first, tak kan lari gunung dikejar, begitu katamu .

Dengan berbekal 2 jaket tebal, 2 rangkap kaos kaki, slayer, dan kaos tangan berangkatlah saya dan yang lain menuju summit. Bismillahirohmannirrohim…

Formasi saya dan Ema jalan di depan tetap dipakai, karena jalanan yang terus nanjak, dan terusss nanjak, nggak ada jalan bonus :mewek. Menyedihkan, hiks. Kedinginan, terus bertanya kapan sampai ? Yaa begitulah kalau saya naik gunung, bawel . Hehehehe 😀

Medan yang dilalui cukup beragam, mulai tracking, bebatuan, tanah, kayu-kayu. Komplit lah.
Pukul 05.30 kami sampai di Puncak Syarif, alhamdulillah, setelah sholat subuh berjamaah di atas puncak, kami SEMUA menikmati matahri terbit. Sungguh, nikmat mana dariNya yang hendak kami dustakan ? Begitu luar biasa , begitu indah , ditambah lagi pemandangan gunung Lawu.

Setelah puas berfoto-foto, menikmati alam d puncak Syarif, maka kami putuskan “nanggung” kalau nggak ke Kenteng Songo. Dengan sisa-sisa tenaga, berangkatlah kami menuju Kenteng Songo. Tracking menuju kenteng songo benar-benar wow, ada yang disebut jembatan setan yang membuat saya “mau” menyerah untuk melewatinya. Serem abis ..

Sampai di Kenteng Songo pukul 07.00, kala itu cukup ramai, karena ada 100 orang lebih berada di kenteng songo.
Alhamdulillah , saya bener-bener nggak nyangka bisa sampai sini :nyengir

Kata bulu, nanggung kalau nggak puncak utama, dengan berkata “yo weslaaaah”, akhirnya kami menuju puncak utama, atau yang disebut triangulasi (kalau ndak salah) 😀

Dari puncak utama ini,  Merapi benar-benar terlihat indah dan kokoh. Decak kagum, merasa diri sangat kecil , maha karya Tuhan yang sungguh luar biasa. Subhanallah …

Air habis, badan capek, 30menit kami tertidur di puncak utama. Rasanya semriwing, lumayan menghangatkan tubuh kala itu, karena mathari telah terbit.

Pukul 09.00 kami turun dengan melewati jalan yang sama , dan lagi-lagi malah bikin nderedeg jalannnya. Pasrah,dijalani saja, begitu pikir saya.

Okeee, kalau jalan turun itu enaknya lari, kata Bulu sih jangan ditahan, supaya kaki nggak sakit dan ternyata benar, enakan lari kalau turun. Akhirnya pukul 10.00 kami sampai di tenda. Kaki sudah mati rasa, capek , lelah, puas, seneng, semua jadi satu :D. Setelah beristirahat sebentar, beberapa orang memasak untuk sarapan pagi itu. Seru sekali, penuh gelak tawa. Mulai dari beberapa dari kami buka lapak (baca : menggali tanah untuk buang air besar, hueheheh ), terus ada yang dikejar monyet. Hangatnya kebersamaan kala itu juga terasa, memakan indomie , telur dan lontong secara bersama-sama.

Pukul 15.30, rombongan dari Jakarta datang. Ada Ojie, mas Gilang, serta Ika. Menambah suasana semakin ramai :).
Malam itu dihabiskan untuk berapi unggun, menghangat tubuh sambil bercengkarama bersama yang lain.

Dan dingin pun tetap “DINGIN” . D-I-N-G-I-N :’)

Minggu pagi, sinar matahari terasa hangat di badan. Luar biasa, tapi kabut pun juga nggak mau kalah.
Pagi itu harus berkemas, karena mau tidak mau harus kembali ke peradaban. Setelah packing , pukul 10.00  kami turun,
berbeda dengan rute berangkat, karena kami ingin melihat air terjun dari kejauhan :). Dan lagi-lagi, selama perjalanan hanya berdecak kagum akan SEMUA Maha Karya Tuhan , betapa kecil nya diri, dan SANGAT tidak COCOK bila MANUSIA bersifat SOMBONG. 😀

Pukul 12.00 tiba kembali di basecamp, ishoma, pukul 15.00 mobil pickup menjemput , untuk membawa kami menuju pasar Tumpang. Kala itu kami sedikit terburu-buru, karena kami mengejar kereta pukul 18.00, tapi apa daya, sampai stasiun Purwosari pukul 18.15, kami terlambat T____T, mau tidak mau mengikuti kereta berikutnya , pukul 21.00.
Tapi APA ? Kereta Gaya Baru Malam , baru datang pukul 00.30, WOW ! Luar biasaaaaa , molor banged bukannnn…
Di kereta , cuma rasa lelah yang kami rasa, dan 04.30 pagi di hari Senin , Welcome home SURABAYA 🙂

And team :
1. Wong Bulu
2. Sylvia
3. Ema
4. Sulis
5. Khoiron
6. Obi
7. Atot
8. Nawawi
9. Fadli
10. Afif
11. Fajar
12. Jack
13. Ibeck
14. Asnawi
15. Abid
16. Hulfi
17. Rosyid
18. Mas otot
19. Mas Adi
20. Mas Ali
21. Teman mas Ali
22. Ojie
23. Ika
24. ms Gilang

Terimakasih , kepada :
1. My Alloh
2. Ortu
3. Teman-teman seperjalanan
4. Kamu

Advertisements

9 thoughts on “3142 itu punya cerita :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s