hujan, kau begitu ku rindukan

Sore kala itu, udara menjadi dingin, awan pun menjadi lebih hitam

Aku duduk di beranda rumah, buku “kado untuk istriku” menemaniku

Itu hadiah dari @kupinang, ketika aku mengikuti seminar di Unair minggu lalu

Aku tersenyum-senyum geli membacanya, pikiranku menerawang dengan sejuta khayalan dan harapan.

Namun sore itu hanya sekedar ‘tanda-tanda’.

Sudah beberapa bulan ini Surabaya terasa begitu panas, terasa begitu kering.

Entah, kapan Allah akan menurunkan hujan untuk kotaku ini.

Padahal dibelahan bumi lain, hujan sudah membasahi tanah subur para petani.

Seminggu yang lalu, hujan memang sempat mampir, tapi itu hanya sebentar sekali.

Begitu bahagianya aku kala itu, seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Kala hujan, bau tanah yang sejuk dan beraroma khas.

Kala hujan, aku memutar memori masa kecilku.

Mengingatkan ku dulu begitu dengan bebasnya berlarian kesana kemari.

Dengan hujan, menangis menjadi tak terlalu terlihat.

Dengan hujan, banyak harapan yang ku lontarkan pada Dia.

Dengan hujan, aku selalu menulis di balik jendela depan sana.

Oh hujan, kau begitu ku rindukan.

[image source: Tumblr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s