MAHALNYA HIDAYAH

tumblr_m0qc9bbtxY1qjyp6oo1_500_large

Pernah terpikir bahwa saat ini tengah berada dalam ANUGRAH yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang belum atau DIHALANGI untuk memperolehnya, bahkan bisa jadi tidak mau dan tidak mencari tahu.

Tahu ini benar, tahu itu salah. Tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan. Kemudian merasa sangat dimudahkan untuk MENGIKUTI yang BENAR dan MENINGGALKAN yang SALAH.

Sementara banyak orang yang TIDAK MENGERTI mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang TAHU tapi TIDAK DIMUDAHKAN baginya untuk mengamalkan kebenaran, malah ia seolah asik dalam berbuat KESALAHAN.

Kita dapat berjalan mantap diatas CAHAYA yang TERANG benderang, sementara banyak orang yang TERTATIH meraba dalam KEGELAPAN.

Kita tahu apa TUJUAN hidup kita dan kemana kita akan menuju. Semantara, ada orang-orang yang tak tahu UNTUK APA sebenarnya mereka hidup, Bahkan banyak yang menganggap mereka hidup hanya untuk sekedar minum, makan, bersenang-senang, dan kemudian mati di DUNIA dan selesailah kehidupan.

Apa namanya semua yang kita miliki ini ? kalau bukan ANUGRAH TERBESAR, NIKMAT yang TIADA TERNILAI ? Yaa, inilah HIDAYAH dan TAUFIQ dari Allah…

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat

وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat PETUNJUK / HIDAYAH”

beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan HIDAYAH di dalam HATI kecuali kepada orang yang PANTAS mendapatkannya. Adapun orang yang TIDAK PANTAS memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala MENGHARAMKANNYA beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki Hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan HIDAYAH HATI kepada setiap orang, namun HANYA diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya BERHAK mendapatkannya dan dia memang PANTAS. Sementara orang yang Dia ketahui TIDAK PANTAS beroleh hidayah dan TIDAK COCOK, maka DIHARAMKAN dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab TERHALANGNYA seseorang dari beroleh HIDAYAH adalah FANATIK terhadap KEBATILAN dan semangat KESUKUAN, PARTAI, GOLONGAN, dan semisalnya. Semua ini menjadi SEBAB seseorang tidak mendapatkan TAUFIQ dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Siapa yang KEBENARAN telah JELAS baginya namun TIDAK MENERIMANYA, ia akan DIHUKUM dengan TERHALANG dari HIDAYAH. Ia dihukum dengan PENYIMPANGAN dan KESESATAN, dan setelah itu ia TIDAK DAPAT menerima KEBENARAN lagi.

 

Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk BERSEGERA MENERIMANYA. Jangan sampai ia MENUNDANYA atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang PANTAS diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf:5)

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS.Al-An’am:110)

Perlu diketahui, HIDAYAH itu ada dua macam:

1.  HIDAYAH yang bisa diberikan oleh MAKHLUQ, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah IRSYAD (bimbingan), DAKWAH dan BAYAN (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. HIDAYAH yang hanya bisa diberikan oleh Sang KHOLIQ Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah TAUFIQ. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, terlebih selain beliau, dalam ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat MEMBUKA JALAN di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun MEMASUKKAN orang lain KE DALAM HIDAYAH dan MEMASUKKAN IMAN KE DALAM HATI, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini HAK ALLAH Subhanahu wa Ta’ala semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau 9/340-341)

Saudara-Saudariku, BERSYUKURLAH kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang DIPILIH-Nya untuk mendapatkan DUA HIDAYAH yang tersebut di atas.

Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena TERHALANG dari HIDAYAH TAUFIQ.

Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat al-haq tersebut dan engkau hempaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti HIDAYAH TAUFIQ dari Rabbul Izzah MENYERTAIMU.

Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau JAGA, karena ia sangat BERNILAI dan sangat PENTING bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin SELAMAT di dunia, terlebih di akhirat.

Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala SETIAP SAAT untuk mengokohkannya di atas HIDAYAH, agar hidayah itu BERTAMBAH dan TERUS MENERUS dimilikinya.

Karena seorang HAMBA TIDAK DAPAT MEMBERIKAN KEMANFAATAN dan TIDAK DAPAT MENOLAK KEMUDHARATAN dari dirinya, KECUALIi apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala KEHENDAKIi.

Allah ‘Azza wa Jalla pun MEMBIMBING si hamba agar di SETIAP WAKTU memohon kepada-Nya PERTOLONGAN,KEKOKOHAN, dan TAUFIQ.

Orang yang BERBAHAGIA adalah orang yang diberi TAUFIQ oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk MEMOHON HIDAYAH, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan JAMINAN untuk MENGABULKAN permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di penghujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

“Wahai orang-orang yang beriman, TETAPLAH BERIMAN kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (QS. An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar TETAP BERIMAN. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang BELUM ADA, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar TETAP TSABAT (kokoh), TERUS MENERUS dan TIDAK BERHENTI melakukan AMALAN-AMALAN yang dapat membantu seseorang agar TERUS di atas KEIMANAN. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

  • BERBAHAGIALAH dengan HIDAYAH yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan JANGAN BIARKAN hidayah itu BELALU darimu. MINTALAH SELALU selalu KEKOKOHAN dan KEISTIQAMAHAN di atas IMAN kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa.
  • Teruslah MEMPELAJARI ILMU agama. HADIRILAH selalu MAJELIS ILMU. DEKATLAH dengan ULAMA, CINTAIi mereka karena Allah ‘Azza wa Jalla.
  • BERGAULLAH dengan orang-orang SHOLEH dan JAUHI orang-orang yang JAHAT yang dapat merancukan PEMAHAMAN agamamu serta membuatmu terpikat dengan DUNIAa.

 

Satu lagi yang penting, JANGAN Engkau MENJUAL AGAMAMU karena menginginkan DUNIA, karena ingin HARTA, TAHTA, dan karena CINTA kepada lawan jenis.

Sekali-kali JANGANLAH Engkau KEMBALIi ke BELAKANG. Kembali kepada masa lalu yang SURAM karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:

 فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullahu:

“Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada PERANTARA antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)

 

Oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s