Bersedihlah, wahai orang-orang yang terhalang hatinya

temporary dunya.

-sebuah renungan-

Wahai diri,Kesalahan seperti apakah yang telah engkau perbuat, sehingga kenikmatan ibadah itu hilang darimu ?
Sadarkah wahai diri, engkau sesungguhnya telah kehilangan mutiara berharga dalam hidupmu.
Kering hatimu dari lezatnya ibadah kepada Allah, adalah hakikat kefakiranmu di dunia. Andai engkau mau merenunginya.

Wahai diri,
Apakah engkau berpikir Allah butuh berlelah-lelah dengan sholatmu, sedangkan hatimu tidak sedang menghadapnya?
Apakah engkau pikir Allah butuh dengan lapar-lapar puasamu sementara engkau berbuka dengan syahwat mata, syahwat mulut, dan syahwat pikiranmu?

Ukurlah dirimu wahai diri,
Andaikata ibdah-ibadah itu telah engkau laksanakan dengan sungguh-sungguh, mengapa masih terhias dalam hari-harimu kecintaan kepada dunia melebihi kecintaan kepadaNya?
Sedangkan tidak mungkin sebuah benih menumbuhkan benih lain. Ibadah menumbuhkan benih kecintaan kepada Allah. Lantas benih apa yang engkau tanam dalam ibadahmu sehingga justru dunia yang tumbuh menghiasi hatimu?

Ibnu Taimiyah berkata,”Jika engkau mendapatkan suatu amaliah yang tidak mendatangkan ketenangan di dalam hatimu dan kelapangan bagi dadamu maka hendaklah engkau mewaspadainya, sebab Allah Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Bersyukur, yaitu Dia pasti memberikan balasan bagi amal hambaNya yang telah dikerjakannya di dunia dengan memberikan rasa lezat di dalam hatinya, kekuatan dan kelapangan serta kesenangan . Jika dia tidak mendapatkan hal tersebut berarti amal itu telah bercampur dengan sesuatu yang lain.”

Camkan baik-baik ucapan itu.

Yaa, semua itu terjadi karena engkau tidak sungguh-sunguh merawat karunia ibadah yang Allah hidayahkan kepadamu. Engkau pilih ibadah yang engkau sukai, sementara engkau tinggalkan ibadah lainnya yang tidak engkau suka. Engkau suka dengan ibadah-ibadah yang yang membuat orang lain mengagumimu, ibadah yang dilihat orang lain, sementara ibadah yang tersembunyi engkau tinggalkan.

Demi Allah. Kenikmatan menjalani ibadah seperti itu adalah kenikmatan palsu. Sungguh engkau telah kehilangan perhatian dari Allah, disebabkan ibadah-ibadahmu yang tampak di permukaan.

“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya'(dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali dengan sedikit.” (Qs An-Nisaa : 142)

Wahai diri,
Apakah engkau merasa ayat tersebut sedang menyinggungmu, karena ia membeberkan tentang keadaaanmu yang malas dengan sholat dan kadang beramal karena ingin dipuji?

Jangan sampai setan menipumu.Sehingga engkau merasa tak ada masalah dengan keadaanmu yang sakit. Karena engkau anggap teman-temanmu banyak yang sepertimu. Bahkan menurutmu, banyak yang lebih buruk darimu. Lalu engkau merasa puas dengan keadaanmu.

Engkau tak merasa sakit dengan tak ternikmatinya ibadah. Engkau tak merasa butuh diobati meskipun ibadah telah kehilangan lezatnya. Hatimu telah mengeras. Sehingga butuh cahaya kuat untuk melelmbutkannya. Lantas bagaimanabisa datang cahaya kuat, sedang sebersit saja cahaya hidayah datang kepadamu tidak engkau hiraukan?

Begitulah keadaanmu. Engkau puas dengan dirimu karena sholat yang engkau dirikan meskipun diantara waktu sholat wajib itu engkau bermaksiat kepadaNya. Engkau telah memaafkan dirimu sendiri, mendahului taubatmu kepada Allah. Sementara malaikat Jibril tak pernah datang kepadamumu mengabarkan bahwa dirimu telah diampuni. Berhentilah membohongi diri sendiri. Berhientilah menjadi manusia yang terlalu jumawa seolah-olah ibadahmu telah menghapus semua keburukanmu.

Jujurlah, bahwa sebenarnya engkau sudha tahu bahwa setan sedang mempermainkanmu:”Tetapi syaithan menjadikan umta-umat itu memandang baik perbuatan mereka.” (QS An-Nahl : 63)

Wahai diri ,
maka bersedihlah. Karena engkau memang layak untuk bersedih. Wahai orang-orang yang terhalang hatinya dari merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah. Lalu bawalah kesedihanmu itu ke dalam penyesalan mendalam. Ubahlah haluanmu. Pandanglah dunia ini dengan kadar kehinaan yang memang pantas disandangnya.

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al-Hadiid : 20)

Bergeraklah memimpikan ketaatan kepada Allah. Telah berlalu kisah-kisah orang shalih yang mereka mendapatkan surga sebelum surga sesungguhnya. Mereka menikmati lezatnya ibadah kepada Allah.

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”(QS As-Sajah:17)

Ya, tidak ada yang tahu klezatnya ibadah itu sebelum engkau mengupayakannya.

Wahai diri,
butuh kesabaran memang, hanya pertolongan taufik serta hidayahNya sajalah yang membuat engkau merasakan nikmatnya ibadah.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Sumber : Majalah Nurul Hayat edisi 115 Agustus 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s