Bahasa Angka

heart

Orang yang berbicara denganku mengenal bahasa angka. Bila kita bertanya kepadanya tentang sesuatu, akan kita dapati ia menghtung-hitung terlebih dahulu, baru ia memberi jawaban.

Pada suatu malam yang dingin dalam suatu perjalanan, keadaan demikian hening dan mencekam. Ia bertanya kepadaku, “Berapa banyak hartamu yang engkau sedekahkan setiap tahun?”

Aku terkejut mendapatkan pernyataan tersebut. Setiap lama terdiam, namun ternyata ia mengulangi pernyataan itu sekali lagi. Sebelum menjawab, aku bertanya dulu kepadanya, “kenapa engkau bertanya demikian? engkau tahu, bahwa sedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada sedekah terang-terangan, sebagaimana dalam hadist Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ada tujuh orang yang Allah akan menaungi mereka dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan selain naunaganNya”

Diantara disebutkan,

“Lelaki yang bersedekah dan menyambunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

Namun ia bersikeras bertanya kepadaku. Aku pun binggung menjawabnya. Aku berpikir, berapa banyak aku bersedekah dalam setahun penuh ? Sebuah pertanyaan yang mengharuskanku mereview kembali setahun yang lalu; hari-hari dan bulan-bulan yang telah berlalu. Ketika ia memperhatikan bagaimana beratnya aku berpikir, ia berkata, “Biar aku memperingkas pertanyaan itu kepadamu. Kita sekarang berada di pertengahan bulan. Sudah berlalu kira-kira dua minggu dari awal bulan. Berapa banyak engkau telah berinfak untuk kebaikan?”. Dengan cepat dan tanpa ragu-ragu aku menjawab, “belum ada sedikitpun.”

Ia menggelengkan kepala, lalu diam sejenak.. Lalu ia kembali memainkan bahasa angkanya. Beberapa lama kemudian, ia berkata, “Kalau begitu engkau tidak bersedekah pada setiap harinya,  meskipun dengan sebelah kurma. Bagaimana pendapatmu? Aku terheran-heran dengan cara dia menghitung. Namun ia menambahkan, “Engkau hanya bersedekah bila engkau mendapatkan fakir. Bukankah begitu?” Aku menjawab, “Ya.” ia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kapan engkau mendapatkan fakir yang membutuhkan bantuanmu itu? Atau kapan engkau mencari fakir itu? Aku tidak mengatakan hanya orang fakir, namun termasuk kerabat atau tetanggamu?.”

Aku menjawab dalam hatiku sendiri, “Tidak pernah mencarinya, dari kerabat atau dari kalangan tetangga.” “Kalau kita umpamakan kita bersedekah satu riyal dalam satu hari, berarti jumlah yang kita sedekahkan dalam satu tahun penuh adalah tiga ratus enam puluh riyal. Jumlah sedikit sekali.” Ia menunggu jawaban. “Betul”. jawabku.

Namun aku yakin bahwa aku tidak menyedekahkan sebesar itu, meski jumlahnya amat sedikit. Ia meneruskan, setelah aku memberi jawabanku, “Pintu sedekah itu termasuk pintu ibadah yang luas. Bisa dalam bentuk memenuhi kebutuhan orang fakir, atau memberi pakaian orang yang tak mampu membelinya, atau memberi makan orang yang lapar, menolong orang yang kesusahan, juga mengajarkan orang yang jahil. Allah telah memberikan kepadamu harta ini. Gajimu sebulan lebih dari tiga ratus riyal. Apa yang engkau persembahkan untuk islam dan kaum muslimin ? Apakah engkau pernah membelikan buku untuk para  tetanggamu ?

Apakah engkau pernah ikut andil dalam membangun masjid, meski dengan jumlah sedikit ? Berapa kaset islam yang pernah engkau hadiahkan ? Berapa orang fakir yang telah engkau tolong ? Medan kebajikan itu banyak sekali, bermacam-macam.

Tetapi sadarkah engkau, bagaimana kita terhalangi dari semua kebajikan itu ? Kenapa engkau tidak mengkhususkan jumlah tertentu setiap bulan untuk disedekahkan ? Uang yang berlebih dari kebutuhanmu, bisa engkau sedekahkan dalam pintu kebajikan-kebajikan yang ada.

Kemudian masih ada banyak lagi yang bisa engkau persembahkan. Kita beri contoh, dan silahkan menghitungnya. Kalau engkau mengurangi minum susu satu gelas satu hari, berarti engkau telah mengumpulkan satu riyal. Itu sudah cukup untuk membeli satu porsi makanan untuk keluarga muslim, yang mungkin belum melihat makanan sehari atau dua hari. Kalau engkau mengurangi membeli satu baju, dari kelebihan yang engkau butuhkan satu tahun, berarti engkau telah menginfakkan sebesar seratus lima puluh riyal. Cukup untuk membeli buku-buku akidah dan dibagi-bagikan kepada sekolah-sekolah islam.

Semoga dengan itu Allah menutupinya dengan pakaian aman di hari yang penuh dengan rasa takut, dan memberinya pakaian ketakwaan, serta menjadikan apa yang ditinggalkannya di dunia ini sebagai dinding darinya dari api neraka di hari kiamat nanti.

Wahai saudaraku, rumah yang engkau hiasi dengan berbagai aksesoris dan fasilitas mewah, bisakah engkau meninggalkan salah satu di antaranya walaupun hanya satu kali. Kalau bisa, berarti engkau telah mengumpulkan lebih dari lima ratus riyal. Itu sudah cukup untuk memberi santunan bagi tiga siwa menghafal al-qur’an selama satu tahun penuh. Allahu Akbar. Bagaimana pendapatmu ?

Mengapa engkau menghalangi kenikmatan Allah yang berada ditanganmu untuk disedekahkan dijalan kebajikan ? Bila engkau melakukannya, niscaya Allah akan menggantinya untukmu dan menganugrahkan kepadamu doa orang yang shalih, doa yang naik ke langit, dari seorang anak kecil muslim yang hafal al-qur;an yang selama ini engkau biayai.

Demikian juga anakmu. Kenapa tidak engkau ikut serta dalam menjalankan kebajikan ? Kalau engkau memberitahukan kepadanya bahwa ia telah bersedekah pada suatu hari, seharga mainannya untuk membantu dan menolong kaum muslimin, pasti akan engkau lihat kegembiraan di wajahnya. Ia adalah anak islam. Dengan sejumlah tiga puluh lima riyal, sebagai sedekah darinya, engkau bisa berlangganan majalah bulanan selama satu tahun penuh, mengangkat panji tauhid, dan memerangi bid’ah serta kesyirikan. Engkau telah ikut andil membantu meski dengan bantuan yang ringan, dengan membaca dan mengambil faidah.

Semoga dengan itu Allah menempatkan anakmu di ‘Illiyin. Pada hari ketika panji tauhid dikibarkan.”

Ia berpaling padaku, dan berkata, “Bagaimana pendapatmu? Bukankah itu tidak akan mempengaruhi pakaianmu? Tidak juga makananmu? Tidak juga tempat tinggalmu? Ia bagai menikam pisau belati ke jantungku, ketika ia menambahkan, “Demi Allah. Engkau melihat, bahwa mereka hanya mencari sesuap makanan, yang tidak akan lebih dari satu porsi makananmu, namun cukup untuk makan satu keluarga diantara mereka selama satu minggu.”

Air mata tangisan berderai karena musibah yang menimpamu, wahai umatku,
sampai kapan kami akan terus menangisimu, wahai umatku.

Sebentar kami terdiam, sementara aku berusaha membendung air mataku, yang terus mencari jalan keluar. Ia menambahkan dengan suara yang sedih.

“Berapa orang fakir yang akan dapat engkau tolong? Berapa banyak orang yang berhak, yang engkau beri? Berapa banyak pintu kebajikan pula yang dapat engkau ketuk? Dan berapa pahala yang dapat engkau peroleh ? Ini adalah salah satu pintu kebajikan. Bila engkau melihat sisi lain, engkau akan terheran-heran. Bila seorang muslim menggagalkan perjalannya tahun ini, dan menginfakkan biaya perjalanannya, tentu ia sudah dapat memberi makan satu kampung kaum muslimin.” Ia memeragakkan tangannya. “Dan masih banyak lagi yang lainnya. Ia meninggalkan diriku yang masih mengulang bahasa angka itu sekali lagi. Jerit tangis bayi-bayi kaum muslimin terasa mengetuk pendengaranku. “Dimana kalian, dan mengapa kalian tidak menolong kamu, wahai kaum muslimin?”

 -Akhirnya Mereka Bertaubat, “Bahasa Angka”-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s