siapkan mental sebelum menikah, siapkan ilmu sebelum beramal.

jadi saya copy paste artikel ini dari ummiummi.com.

saya share disini, semoga menjadi bermanfaat dan pelajaran untuk kita semua.

judul aslinya adalah “Siap Mental Sebelum Menikah”.

Dunia menyajikan walimah nikah yang begitu cantik dengan buket bunga berwarna-warni.
Narasi cerita para pengantin baru serasa selalu saja manis.
Para perempuan berkhayal layaknya ratu dengan gaya manja bersandar di bahu pangeran.

Tapi … itu baru satu fragmen rumah tangga.

Selain ilmu dari Al-Quran dan as-sunnah, ada hal lain yang harus disiapkan oleh setiap perempuan yang akan menikah.

Untuk Anda, para perempuan yang tengah berbahagia menyongsong hari yang dinanti, jangan lupa siapkan satu hal.

Yaitu …
Siapkan mental!

Pertama. Siapkan mental, bahwa suami Anda kelak adalah manusia biasa yang pasti – ingat, pasti – punya kekurangan.

Jangan sampai terlontar dari bibir Anda cercaan kekecewaan atas si dia yang kurang di sana-sini.
Jangan sampai terlintas di hati Anda bahwa istikharah dan doa panjang Anda kepada Allah ternyata menghasilkan kesedihan yang demikian.

Coba ambil cermin.

Tanya kepada diri Anda sendiri. Apakah Anda sempurna?

Bila jawaban Anda, “Iya,” maka hebat! Anda lebih hebat daripada Aisyah, dari Khadijah, dari Fatimah, dari Asiyah, dan dari sekian banyak perempuan pilihan dalam agama ini.

Bila jawaban Anda, “Tidak,” maka melangkahlah ke pertanyaan kedua di bawah ini,
“Apakah masih terbuka kesempatan bagiku untuk berubah?”

Untuk pertanyaan kedua ini, jawabannya hanya ada satu,
“Iya. Selama nyawa Anda belum sampai ke tenggorokan, selama matahari belum terbit dari barat, Anda sangat mungkin sekali untuk berubah menjadi lebih baik, dengan pertolongan Allah.”

Bila Anda sudah menjawab pertanyaan kedua ini dengan mantap, sadarilah bahwa itu pula yang harus – ingat, harus – Anda yakini terhadap suami Anda.

Suami Anda yang punya kekurangan itu perlu kesempatan untuk berubah, sebagaimana Anda yang punya kekurangan juga perlu kesempatan untuk berubah.

Maka, berilah kesempatan baginya untuk berubah dan … doakan dia.

Kedua. Siapkan mental untuk beradaptasi dengan gaya komunikasi suami Anda.

Komunikasi adalah salah satu kunci kelanggengan rumah tangga.

Tugas pertama seorang istri adalah mengamati gaya komunikasi suaminya. Proses mengamati ini berlangsung panjang, maka bersabarlah dan mintalah pertolongan Allah.

Amati gaya komunikasi suami Anda. Perhatikan caranya menyatakan hal yang disukai dan caranya menyatakan hal yang tidak sukai. Mungkin gaya bicaranya to the point, atau banyak basa-basi, atau suka menggunakan kata kiasan, atau bahkan suka melucu.

Istri tidak boleh memukul rata bahwa gaya lelaki lain pasti sama dengan suaminya.

Orang lain mungkin bertipe serius. Bicara kadang-kadang saja, dengan nada yang datar. Misalnya, “Dik, lain kali garamnya dikurangi ya.”

Tapi, suami Anda mungkin tipikal kocak yang suka mengungkapkan sesuatu dengan nada lucu, “Istriku ini memang pandai betul memasak masyaallah. Satu centong, dua centong. Coba tebak berapa banyak garam yang Dindaku tersayang tambahkan ke sup ini?”

Jadi, belajarlah menyesuaikan dengan gaya komunikasinya. Menikah itu menyatukan keberagaman, bukan mempertentangkannya. Gaya komunikasinya yang datar mungkin bisa membantu Anda yang bertipikal baper. Gaya komunikasinya yang kocak mungkin bisa menceriakan hidup Anda yang bertipikal perasa.

Ketiga. Siapkan mental bahwa rumah tangga itu isinya Anda, suami, dan anak-anak. Jangan bawa-bawa rahasia dapur ke beranda Facebook.

Anda merasa suami salah dan perlu mengubah sifatnya? Tidak perlu repot-repot memboyong isi dapur Anda ke beranda Facebook atau dinding blog.

Sampaikan langsung ke suami Anda, sesuai dengan gaya komunikasi yang paling pas untuknya.
Anda merasa perlu teman diskusi karena pikiran Anda buntu untuk menemukan cara menyampaikan cara komunikasi yang tepat? Berdiskusilah dengan orang yang Anda percaya, baik agamanya, dan bisa menjaga amanah. “Bisa menjaga amanah” adalah bagian yang sangat penting ketika Anda curhat/diskusi dengan teman Anda. Jangan sampai Anda sudah berusaha maksimal menutup aib rumah tangga Anda, lalu justru dia yang membocorkannya lewat status Facebook, dengan alasan: agar diambil ibrah-nya oleh banyak orang.

Empat. Siapkan mental untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penguat.

Kalau dada Anda sudah terlalu penuh dengan api kekesalan atau air mata kekecewaan, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong.

Sabar? Shalat?

Iya, sabar dan shalat. Allah Ta’ala yang mengajarkan kita untuk berpegang dengan dua hal itu,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ (*) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 45-46)


Athirah Mustadjab.
15 Rajab 1438 H (12/4/2017 M)
Artikel UmmiUmmi.Com



 http://ummiummi.com/siap-mental-sebelum-menikah

Jadi shalihat, menikah tidak hanya tentang printilan printilan membahagiakan.. kedepannya adalah ujian hingga kapal berlabuh di surga. Dan kita akan menjalani itu bersama orang yang sama setiap harinya. mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi kita melihat orang yang sama. meladeni orang yang sama. suami dan anak anak kita. kita harus punya stok ilmu yang banyak, sabar yang tanpa batas.

kalau kata ustad Nuzul, tiket first class sekelas Garuda itu mahal.. kita sendirian kan ngga mungkin. tentu dong kita bawa keluarga besar kita untuk ke surga. ingat keluarga kita, k e l u a r g a . jadi wajar jika upaya nya lebih dari biasanya. lebih extra dalam segala hal.

dan kita shalihat, harus tahu juga bagaimana memperlakukan seorang pemimpin, pemimpin itu suami kita. iyaa, bukan lagi ayah kita, tapi s u a m i . suami kita adalah surga atau neraka kita.

Jadi ya gitu.. banyakin ilmunya, jangan banyakin galaunya. Tidak hanya ilmu tentang rumah tangga, tapi juga mendidik anak, ilmu waris, ilmu bertetangga, ilmu fiqih yang lain.

In syaa Allah, semua akan menikah pada waktunya.

Sabar, tidak pernah terlambat, dan tidak terlalu cepat. Semua menurut waktu yang pas yang telah Allah tentukan.

ps : semua yang ditulis adalah nasehat untuk diri sendiri.

– gambar diambil dari instagram terkait.

seiring senja muncul di beranda,

11 syawal 1438h.

©sylviia.wordpress.com


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s