menjadi matahari yang kilaunya menundukkan

bismillah ~

pakaian yang terbaik adalah pakaian taqwa.

menjadi wanita di zaman ini godaannya berat, ujiannya dalam tahap ‘waspada’, menurut saya, belum lagi ditambah wanita itu adalah fitnah terbesar bagi lawan jenis.

mulai dari sosial media, seperti facebook, instagram, tumblr..

ditambah lagi tabiat wanita yang ‘mudah terbawa euforia’ untuk memberi komentar. di manapun. terlebih di halaman ikhwan, dalam area komentar yang menurut saya ‘tidak penting’, terkecuali komentar pertanyaan. ahhh ~~ kalau tidak benar benar menjaga jempol, lisan dan hati.. niscaya.

selain itu wanita memang suka memperlihatkan, entah ditutupi stiker atau di blurkan(dalam masalah foto).. ahh perempuan.

belum lagi godaan untuk melengkapi warna gamis dan kerudung, “wah, aku belum punya warna ini”, padahal warna ada banyak. belum puas lihat di feeds IG (dulu), kalau nggak nemu ujung-ujungnya pergi ke toko kain.

makin kesini hendak menjadi shalihah itu ujiannya banyak.. kalau tidak ada ilmu untuk pegangan, bisa bisa terbawa arus.  ilmu pun harus terus di upgrade, tak melulu kajian tematik.. beralihlah datang ke kajian kitab, ada begitu kitab para ulama yang harus difahamkan.

menjadi perempuan shalihah adalah pilihan yang harus disegerakan.. menjadi terbaik di mata Rabbana adalah tujuan utama ‘untuk apa seperti ini’, ‘untuk apa seperti itu’.

terus saja datang, jangan pernah menjauh dari majelis ilmu, apapun kondisi yang kita rasakan, akan ada ketenangan disana, akan ada banyak faedah, dan teman teman sholehah.

pada akhirnya harus banyak sirah lagi yang dibaca.. agar banyak ibroh yang bisa diambil

kamu harus menjadi matahari yang kilaunya menundukan, dengan ilmu yang kamu miliki, dengan akhlak yang baik.

tak usah bahagia jika dipandang, carilah perhatian penduduk langit.. menjadi wanita yang ketika ada ujian dan godaan bisa dengan baik diselesaikan.

tumbuhlah dengan ketaatan .. lisan yang tak lepas dari mensyuri kenikmatan.. dan rawatlah apa yang telah Ia berikan.

dan teladanilah generasi generasi terdahulu yang namanya harum di langit.

menjadi shalihah, adalah pilihanmu kan ?

~ saat rehat di taman orang orang sholeh.

tulisan ini adalah nasehat diri.

untukmu sylvia.

Advertisements

komunikasi yang perlu diperbaiki

bismillah.

sesekali judulnya agak serius dikit. lol

jadi judul itu lahir akibat alhamdulillah saya dikasih kesempatan Allah untuk bisa hadir di seminar bu Elly Risman, di masjid Salahudin, jamnya pas jam pulang cari receh. hamdalah.

seminar itu diberi judul, membangun komunikasi keluarga. ibu bilang, harusnya pada kelas kelas seminar yang beliau adakan di Jakarta kelas ini punya durasi 3-4 jam selama 4 hari, nah ini beliau berusaha meringkasnya hingga mudah mudahan bisa dipahami dalam waktu 2,5 jam dan satu hari.

jadi.. ternyata berkomunikasi itu ada ilmunya dan itu nggak gampang. butuh waktu dan terus belajar gimana biar bisa ngomong yang baik, benar dan menyenangkan, baik itu artinya sesuai cara kerja otak, benar itu artinya sesuai qur’an dan sunnah.

kita hidup dengan pengasuhan yang berbeda beda, kita hidup dengan kebiasaan kecil yang berbeda pula, kita hidup dengan membawa memori memori dimasa kecil, entah itu yang menyenangkan ataupun yang enggak. dan mau nggak mau, itu akan berpengaruh pada diri kita saat ini, entah kepribadian atau masa depan, terutama saat kita telah menjadi orangtua.

kalau ditanya siap nggak jadi ayah, jadi ibu ? sekolah ngga sebelumnya ? maksudnya apa pernah sekolah perayahan dan peribuan ??padahal menjadi orangtua butuh bekal yang banyak, ilmu yang baik, ada ilmu tahapan perkembangan anak yang harus kita tahu, ada cara kerja otak (anak) yang kita setidaknya tahu ilmunya.

sebagai contoh : ibu Elly mencotohkan bagaimana kita membangunkan pagi anak kita berkali kali dengan nada sekian oktav dan kalimat yang nggak cukup 1 paragraf, misal nih … “budiiii.. budiiiii…. ayoo bangun budiii… ayoo nak ini sudah siang, kamu belum sholat subuh, habis ini sekolah… belum mandi juga.. ayoo budi bangunnn… sholat subuh duluuu, habis itu mandi… habis mandi siap baik baik turun ke meja makan, mama udah siapin sarapan.. jangan lupa habis mandi handuk ditaruh yang bener jangan diatas kasur, ingat yaa jangan diatas kasur nanti lembab, lepas itu pakaian kotor taruh tempatnya. ayo budi segera. mama tunggu dibawah”. ( coba praktekkan sesuai yang pernah kita tau). saya dibuat ngikik bu Elly.. karena beliau pas sekali meragaiinnya, disambut ibu ibu yang juga ngikik, karena mereka sadar, itu keseharian mereka banget saat bangunin pagi anaknya.

harusnya ngga seperti itu.

harus ada yang dikoreksi, ada yang harus diperbaiki.

saat kita itu kita berbicara secara tergesa gesa, akhirnya kita tidak mengenal diri kita sendiri (ahh, yang penting maksud saya tersampaikan semua, emosi saya sebagai ibu sudah saya luapkan, habis memang dia susah sekali bangun pagi, kita lebih sering ‘look out’ daripada ‘look in’ ). kita lupa bahwa anak adalah individu yang unik ( pernah nggak kita menyapa keunikan anak kita, “duh pinternya anak mama.. ayo bangun nak, sholat subuh dulu habis itu siap siap sekolah ya sayang”. pernah ?). kita juga sering alpa bahwa ada beda antara “needs and wants”, (it means kebutuhan anak kita tidak sama dengan keinginan atau kemauan kita), kita juga tidak membaca bahasa tubuh anak kita ketika kita berbicara dengan mereka, kita tidak pernah mendengar perasaan mereka (mencoba menerka perasaan), dan sebenarnya kalau boleh jujur kita kurang waktu untuk berbicara kepada mereka. kita terlalu egois untuk “pokoknya” tersampaikan.

selain kekeliruan komunikasi diatas, ada pula 12 gaya populer yang sering kita pakai dalam berkomunikasi dengan mereka.

1. memerintah

2. menyalahkan (tuhkan tadi apa mama bilang)

3. meremehkan (inikan gampang, masak gitu aja nggak bisa)

4. membandingkan (nah ini temenmu bisa, lha itu buktinya kakakmu jago)

5. mencap / label (kamu yaa emang anak nakal, dibilang jangan nangis masih nangis, emang kamu anak cenggeng.. anak bodoh, anak lelet, anak malas.. dst. coba yaa kita hadapkan tangan kita didepan muka kita, lalu kita stempeli muka kita dengan cap cap tersebut. bagaimana rasanya ?. ibu, kita sedang mencap anak kita bukan di mukanya, tapi di jiwanya. kemudian, bagaimana kita bisa menghapus cap cap tersebut).

6. mengancam (awas yaa.. kalau kamu nggak nurut sama mama … mama laporin kamu sama bu guru)

7. menasehati (ini yang menjadi catatan penting, bahwa sering kali kita memberikan nasehat saat itu juga, saat anak terkena masalah.. padahal kita harus memberinya waktu, dan jangan menasehati orang kalau perasaanya sedang bermasalah.. kita lalai dalam hal ini, beri ia waktu beberapa jam atau sampai esok, baru berilah nasehat)

8. membohongi (mah ada telpon dari Bu sinta, Bu Sinta nyari mama. oh Bu Sinta RT sebelah ya nak ?. bilang ya nak, bilang mama lagi nggak ada di rumah lagi keluar. jadii ? apa ibu pernah melakukan percakapan diatas?).

9. menghibur (udahlah nak, nggak usah main sama dia, masih ada temen yang lain).

10. mengkritik (bagaimana sih, pakai sepatu aja nggak bisa… ini masih urusan sepatu lho dim, gimana masalah yang lain).

11. menyindir (aduhh, ada angin apa ini anak mama bersih bersin rumah..tumben)

12. menganalisa (yang ini saya lupa contohnya).

pola pola seperti itulah yang kadang mengakibatkan seorang anak menjadi tidak berharga, bahkan didepan orangtuanya sendiri. kalau yang ada hanya perintah larangan perintah larangan perintah. yang nanti akan menjadi bersikap minder, tidak percaya diri, merasa tidak berharga, kecewa, dan ratusan perasaan negatif lain. kalau dia hadir dengan perasaan seperti itu, apa kabar masa depannya ? apa kabar dia dengan dirinya ? apak kabar dia dengan Tuhannya ? apa kabar dia dengan orangtuanya ?

jadi siapa yang bilang komunikasi itu mudah, ngomong itu gampang ?

seperti yang saya kemukakan diatas tadi, kadang ada pengaruh masa kecil kita, dalam pola pengasuhan anak kita sekarang (kok kita ? 😅). iyaa, itu disebut inner child.. lebih jelasnya sila tanya mbah gugel, bu Elly tidak terlalu menjelaskan panjang lebar tentang masalah ini.

tapi beberapa hari yang lalu saya ngobrolin inner child bareng temen saya yang psikolog, inner child itu karakter kita di masa kecil yang belum terselesaikan.. misal, kita pernah mengalami traumatik, dan kejadian itu membuat kita jadi memiliki sifat bawaan tertentu yang bisa sedikit mengganggu dengan kehidupan kita yang sekarang. jadi semacam masa lalu yang belum terselesaikan (tsaahhhhh 😂). nah, dari situ kita harus belajar memaafkan masa lalu, agar kita bisa positif terus. orangtua yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya, biasanya anak yang akan dijadikan pelampiasan.. kasian. kita harus putus rantai itu.

misal nih, waktu kecil kita selalu dituntut orangtua untuk dapat nilai 90, nah itu akan sangat berpengaruh pada pola pikir kita yang sekarang, misal seseorang menjadi workaholic.. jadi lupa sama waktu, sehingga kita lupa hak tubuh kita untuk istirahat, untuk me time, dll. ketika kita sadar itu salah, kita harus bisa belajar menerima diri kita apa adanya. kalau kita atau anak kita sanggupnya nilai 70, ya sudah memang segitu kemampuannya. jika kita bisa berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri yang memang segitu kemampuannya, kita nggak akan ngoyoh (emm…samacam gencar banget) untuk dapetin lebih yang sebenarnya bukan kemampuan kita atau anak kita.

kita harus berdamai dengan inner child diri kita.

jadi gitu.. selain masalah diatas bu Elly juga menyampaikan kiat komunikasi.

maka, sampailah pada langkah bagaimana agar komunikasi kita dengan anak menjadi baik, benar dan menyenangkan

1. turunkam frekuensi (pakailah nada yang baik, lembut)

2. tebak dan baca bahasa tubuh lawan bicara kita

3. dengarkan perasaannya

4. mendengarlah dengan aktif

5. hindari 12 gaya populer diatas

6. bedakan bicara antara anak laki laki dengan perempuan (dalam hal bicara 1 kalimat tidak boleh lebih dari 15 kata. misal anak laki dengan karakter bagaimana, dengan anak perempuan de gan sikap yang seperti apa)

7. fahami, bahwa ada beda antata kebutuhan dan kemauan

8. seringlah berdialog

9. bekerja sama memecahkan masalah (adakan family gathering.. agar terbiasa berpikir, memilih, memutuskan meski dalam lingkup keluarga dahulu)

10. sampaikan pesan saya (ketika kita ingin menyampaikan sesuatu pakailah hal ini. mama (perasaan), kalau kamu (sikap), karena…. contoh (mama kesal kalau kamu telat pulang nanti biar mama telpon seluruh rumah sakit bla bla bla).

ada yang hilang dalam komunikasi modern saat ini, kurangnya berdialog. padahal itu penting, apalagi dalam keluarga.

jadilah sebaik baik ibu dan ayah untuk anakmu, jadilah pendengar mereka yang baik, jadilah sahabat serta teman main mereka.

jadilah sahabat mereka, sebelum orang lain menjadi sahabat mereka.

alhamdulillah punya sedikit bekal ilmu ini, bersyukur sekali Allah mudahkan hadir di acara bu Elly. semoga nanti bisa diamalkan. dan mohon maaf ada beberapa catatan yang nggak bisa saya virtualkan (karena saya binggung bagaimana mengubahnya menjadi kalimat yang pas buat di tulis di blog). mohon maaf kalau bicaranya ngalor ngidul.

jadi begitu ya ibu ibu dan calon ibu.
ada yang perlu kita perbaiki dengan cara berkomunikasi kita. jangan lelah belajar, jangan lupa minta pertolongan Allah. karena mendidik anak di zaman seperti ini memang ujiannya besar.

sekian, semoga bisa diambil faidahnya.

At-Taghābun : 14 – Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

surabaya, 13 muharram 1439h.

 

 ©sylviia.wordpress.com

source gambar : pinterest.