tak perlu merasa

terhadap sesama ada kewajiban untuk menghormati dan tidak merendahkan mereka. semoga diri ini terkarunia sifat yang demikian.

Hasan Al Basri, dalam kitab Hilyatul Ulya, puncak rasa tawadhu adalah ketika diri kita keluar rumah, lalu tidaklah kita melihat seorangpun kecuali kita merasa, dia lebih lebih baik dari diri kita, dia lebih bertakwa dari kita, dia lebih beriman dari kita, dia lebih tinggi derajatnya dari kita.

bisakah ? tak ada setitikpun rasa jumawa terhadap diri saat keluar rumah, tak memandang diri ini lebih baik dari seorang pun ?.

kebaikan kebaikan yang telah dilakukan, sejatinya sudah harus lupakan.

maka semoga setelah melakukan kebaikan sebesar atau sekecil apapun, lantas tidak merasa “ahh, aku sudah pernah menolong dia, sudah berjasa dalam hidupnya, ahh aku sudah melakukan kebaikan yang besar hari ini”.

saat ada orang yang lebih muda, harus tanamkan, “dia dosanya lebih sedikit dariku”, sedang saat ada orang yang lebih tua, harus tanamkan, “kebaikan dan amal yang dia lakukan jauh lebih banyak dariku, lebih banyak malam yang dia lalui dengan qiyamul lail, sholatnya lebih banyak dariku, puasa ramadhannya lebih banyak dariku”.

sungguh tidak ada alasan untuk merasa lebih baik dari orang lain, menganggap diri lebih bertakwa dari orang lain, dan menyatakan dirinya lebih baik dari orang lain.

dia yang sholatnya tidak lebih banyak dariku, puasa sunnah jarang dilakukan, tahajudnya jarang, mungkin dia hanya mengerjakan witir diakhir malam, yang pakaiannya belum syar’i… namun, keikhlasannya melampaui keihlasanku, tawakalnya melebihi tawakalku, yakinnya kepada Allah melebihi rasa yakinku kepada Allah.

amalan hatinya, tidak ada tau. sebab itu pulalah ada Uwais Al Qorni, tabi’in terbaik.. bukan pakar fikih, bukan pakar tafsir.. bahkan beliau adalah orang yang suka diolok olok oleh orang dikampungnya, namun ketika beliau menengadahkan tangan untuk berdoa, pintu langit langsung terbuka untuknya. dan sekelas sahabat Umar pun meminta agar Uwais beristigfar untuknya.

jadi jangan pernah meremahkan orang.. betapa banyak orang yang pakaiannya lusuh, rambutnya berantakan, tubuhnya penuh debu, dan ketika mengetuk pintu rumah manusia, manusia menolaknya, berbeda ketika ia mengetuk ketuk pintu langit sana..

sebab tak ada yang tahu hasil akhir… saat diri merasa amalan hatiku lebih baik darinya, dan amalan dhahirnya lebih banyak dariku. jangan pernah meremehkannya.

saat Bilal bin Rabbah sudah bersyahadat, Umar masih sibuk menyiksa umat Islam. namun siapa lebih utama ?. Umar bin khattab. Orang kedua terbaik setelah Rasulullah dan Abu Bakar.

menjadi baik saja tak perlu merasa.

karena mungkin orang yang paling membenci sunnah, esok adalah orang yang paling mencintai sunnah. karena hati setiap insan ada dalam genggamanNya.
untuk nasehat diri.

dicatat dari faedah kajian Ustad Nuzul Dzikri, “Melejitkan diri dihadapan Allah”.

 

1 dzulhijjah 1438h,

 

©sylviia.wordpress.com

Advertisements

bukan rupa

beberapa bulan lalu, saya mendengar kajian yang disampaikan Ustadz Riyad Bajrey, tentang kisah Julaibib, sahabat Rasulullah. jika luang, sila mendengar kisah satu itu, judul asli kajian tersebut adalah “kisah ketaatan yang menakjubkan”. dan semoga ketaatan kita bertambah kepadaNya.

begini ringkasnya, sudah saya tulis di tumblr, tapi sudah tenggelam jauh, alhamdulillah ketemu.

Julaibib

~ adalah nama sahabat yang tak pernah dicari oleh para sahabat Rasulullah صلى الله عليه و سلم ketika ia tak datang ke majelis ilmu. Ia pun tak terkenal diantara kalangan para sahabat yang lain. Dalam segi dunia, ia sungguh pas pasan dan kekurangan, fisiknya pun tak menarik, harta tak punya. Singkat cerita, atas ijin Allah, ia menikahi gadis yang sungguh cantik jelita, dan dengan harta yang melimpah.
namun ketika panggilan jihad itu datang dari kekasihnya صلى الله عليه و سلم , padahal saat itu adalah saat malam pertama ketika menjadi pengantin baru, panggilan jihad itu ia penuhi.
Ketika beliau wafat pun tak ada yang mengenali dan mencarinya, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bertanya, “siapa yang tidak ada diantara kalian?”, para sahabat menyebutkan para sahabat yang gugur di medan jihad tersebut, tak disebut pula nama Julaibib didalamnya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bertanya lagi, “siapa yang tidak ada diantara kalian ?”. Para sahabat menyebutkan banyak nama kecuali Julaibib, kemudian Rasul berkata, “namun aku tak menemukan Julaibib”. Kemudian para sahabat saling bertanya, “Yaa Julaibib, dimana Julaibib?”.
Yaa, Rasulullah صلى الله عليه و سلم mencarinya.
Namun Julaibib ditemukan wafat diantara 7 orang kafir, ia syahid fisabilillah, itu artinya ia telah membunuh 7 orang kafir yang saat itu menyerang dirinya, Rasul pun menangis ketika melihat jenazah Julaibib, namun tersenyum ketika melihat ke langit, para sahabatpun bertanya, “mengapa engkau menangis ya Rasul ketika melihat jenazah Julaibid dan tersenyum ketika melihat langit ?”
Rasulullah صلى الله عليه و سلم menjawab, “aku menangis karena aku berpisah dengan Julaibid, dan aku tersenyum melihat langit karena bidadari bidadari surga telah menantinya”
••• bahwa, tak masalah jika tak terkenal diantara penduduk dunia, namun terkenal diantara penduduk langit ~
•• bahwa, Allah tak melihat rupa dan fisik kita, Allah melihat hati dan amalan kita.
• Julaibib tak terkenal diantara penduduk dunia, namun ia terkenal diantara penduduk surga.

 

 

pada kalimat pertama, terdapat kisah yang menakjubkan, yaitu pernikahan Julaibib, ijinkan saya menyalin dari broadcast whatsapp saya pagi ini, agar saya bisa selalu membaca kisah ini kembali, 

yaa Allah, dia adalah bagian dariku. dan aku bagian darinya

,begitu kata kekasihnya.

sebuah tulisan dari Ustadz Salim A Fillah.

JULAIBIB radhiyallahu ‘anhu

Cemburukah kita kepadanya……….?

JULAIBIB, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib, Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.

Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib. Namun, jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?” Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum.

Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib,

Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin menikahkan putri kalian”, kata Rasulullah pada si empunya rumah.

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta?” Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”
Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini; Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yg nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan  Nabiyullah dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah,

Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak mengutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. 

Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya. Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.

Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran,  “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak sekali.

Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan 3 was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.Rasulullah menghela nafasnya.

“Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar. “Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Rosulullah shalallahu alaihi wasalam memperlakukannya  dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit.

Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita CEMBURU?

*

*

tak ada yang mengenal Julaibib, pun dikalangan para sahabat yang mashur, tapi Julaibib terkenal diantara penduduk langit, rasa cinta pada Allah dan Rasulullah melebihi segala.

kemudian saya berkaca, malu rasanya, jika apa apa tentang takdirnya saya keluhkan, mempertanyakan takdir, padahal urusan selesai jika percaya pada, “takdir Allah pasti baik, rasa sayangNya kepadamu melebihi rasa sayang seorang ibu kepada anaknya”. urusan selesaikan ?

mari kita belajar dari Julaibib, yang taatnya diam diam, yang doa dari Rasulullah membuat cemburu para penduduk bumi. dari Julaibib yang ‘kami dengar, kami taat’, yang selalu merendahkan diri dihadap kekasihNya.

mari kita belajar dari Julaibib, yang tidak mempertanyakan takdir, “kenapa aku begini dan begitu, kenapa fisikku begini dan begitu”, dari situ, kita harus ridha atas segala ketetapanNya,

mari kita belajar dari istri Julaibib, yang rasa taatnya kepada Allah dan RasulNya, mampu membuat Rasulullah mendoakan berjuta kebaikan untuknya, yang ridha terhadap aturan yang Allah berikan, yang patuh terhadap yang Rasulullah sabdakan. dan saya jadi teringat bahwa “ketaatan selalu diiringi nafsu yang tidak suka padanya, begitu juga sebaliknya perihal kemaksiatan”.

kita tidak tahu apa apa, kita itu sok tahu, ketidak tahuan kita melahirkan berbagai prasangka buruk kepada Allah, padahal takdir yang kita pandang buruk, itu adalah yang terbaik untuk kita, jiwa kita kerdil, pandangan mata kita terbatas.

dari Julaibib kita tahu, bukan rupa, sebab Allah tak melihatnya, bukan pula tentang harta, ini adalah tentang hati. sehingga ia syahid dijalanNya.

Taat saja, yakin saja nanti semua juga pasti ada jalan keluarnya, begitu kan janjiNya ?.

kita cemburu kan pada Julaibib dan istrinya ? semoga.

5 dzulqo’dah 1438,

diantara kicauan burung ,

©sylviia.wordpress.com